
Salah satu tradisi Indonesia ialah berkumpul bersama keluarga atau teman untuk ngobrol sambil duduk lesehan di atas tikar atau karpet. Sambil lesehan biasanya ada diskusi santai untuk membicarakan permasalahan di sekitar kita. Lesehan ini merupakan bagian dari demokrasi rakyat dimana seluruh peserta yang hadir duduk bersama dan bertukar pikiran secara santai tapi serius. Acara seperti inilah yang diselenggarakan oleh KBRI Paris untuk pertama kalinya pada tanggal 4 April 2015 dengan nama “Lesehen Demokrasi.”
Sebagai upaya turut berpartispasi dalam merayakan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), kegiatan Lesehan Demokrasi edisi perdana ini mengambil tema « Relevansi Bandung Spirit dalam Perkembangan Dunia Saat Ini.” 3 orang pembicara telah diundang untuk berpartisipasi yaitu Prof. Samir Amin, pakar sejarah KAA dari World Forum for Alternatives; Dr. Darwis Khudori, Associate Professor di University of Le Havre; dan Biondi Sanda Sima, mahasiswa Master Program di Sciences Po, Paris, dengan moderator Mexind Suko Utomo, mahasiswa Ecole National d’Administration Prancis.
Prof. Samir Amin mengungkapkan fakta sejarah bahwa sebenarnya negara-negara Barat, khususnya AS dan sekutunya di Eropa termasuk Prancis, tidak mendukung pelaksanaan dan hasil KAA tahun 1955. Menurutnya, situasi dunia saat ini mencerminkan dunia tanpa semangat Bandung dimana terdapat perdamaian semu di permukaan tapi banyak perlawanan atas neo liberalisme. Dr. Khudori menceritakan bagaimana peran Indonesia yang besar untuk kesuksesan pelaksanaan KAA 1955 termasuk terbentuknya Gerakan Non Blok. Sedangkan Biondi sebagai wakil generasi muda menyoroti perlunya NAASP menyesuaikan dengan prediksi Asia dan Afrika sebagai future world’s engine of growth dan demographic boom dalam beberapa tahun ke depan dengan usulan memasukkan aspek pemberdayaan pemuda dan good governance sebagai bagian dari program-program NAASP ke depan. Dari diskusi dengan para peserta memang dapat ditarik kesimpulan bahwa dunia saat ini masih memerlukan semangat Bandung yang diharapkan dapat terwujud kembali melalui peringatan ke-60 KAA tahun ini.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 75 orang dari berbagai negara yaitu Indonesia, Prancis, Jerman, Maroko, Tunisia, Togo, Argentina, dan Haiti. Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan pemutaran film berjudul ”Soekarno” karya Hanung Bramantyo dan makan malam bersama ala Indonesia.


















